Monday, January 19, 2009
Usia Pilihan
Bacaan hari ini: Filipi 4:2-8
Ayat mas hari ini: Filipi 4:8
Bacaan Alkitab Setahun: Ayub 11-13
Di sebuah kota hidup seorang wanita yang sudah sangat lanjut usianya, tetapi ia masih sehat dan tetap bersemangat. Ia tinggal sendirian di rumahnya yang sederhana. Suaminya telah meninggal dunia belasan tahun lalu. Para penduduk mengenalnya sebagai ibu yang murah senyum dan penuh perhatian kepada siapa saja.
Suatu hari, tepat di usianya yang ke-87, seorang wartawan dari surat kabar lokal mewawancarainya, “Apa rahasia Ibu sehingga bisa tetap sehat dan bersemangat?” tanya si wartawan. Ibu itu menjawab, “Saya berusaha selalu berpikir positif dan melakukan kegiatan-kegiatan positif”. “Kegiatan seperti apa, Bu?” tanya si wartawan lagi. “Misalnya setiap hari saya merawat tetangga saya, seorang wanita berusia 70 tahun, menyediakan makanan untuknya, mengajaknya jalan-jalan sore, atau sekadar menemaninya minum teh dan menyulam.”
Para ahli gerontologi, ilmu tentang warga usia lanjut, mengatakan bahwa pada dasarnya setiap orang memiliki tiga jenis usia, yaitu usia kronologis, usia biologis, dan usia psikologis. Usia kronologis dan usia biologis itu alamiah, tidak bisa dielakkan. Sedangkan usia psikologis tergantung pada pilihan kita sendiri. Kalau kita, seperti yang dinasihatkan Paulus hari ini, memiliki hati yang selalu bersukacita (ayat 4), hidup yang bersyukur (ayat 6), dan pikiran yang terarah pada hal-hal yang positif dan membangun (ayat 8), maka usia psikologis kita akan sehat. Selanjutnya, hal itu akan berdampak positif terhadap hidup keseharian kita. Dan dengan demikian, kita juga bisa menjadikan hidup kita senantiasa berguna serta bermakna
USIA TUA BUKAN HALANGAN UnTUK BERKARYA KUNCINYA PADA HATI DAN PIKIRAN YANG SEHAT
Labels: renungan harian
posted by Unknown at 4:32:00 AM


|
Permalink |
Saturday, January 17, 2009
Sahabat orang berdosa
Bacaan hari ini: Matius 9:9-13
Ayat mas hari ini: Matius 9:12
Bacaan Alkitab Setahun: Ayub 5-7
Suatu kali saya bertanya kepada seorang ibu, “Apakah Ibu yakin masuk surga kelak?” Ibu itu menjawab, “Yakin sih. Ah, tapi kadang masih ragu juga.” Yakin tetapi ragu? Artinya masih tidak yakin. Lalu saya bertanya lagi, “Mengapa begitu, Bu?” Si ibu menjawab, “Saya ini masih banyak dosa, masih suka berbohong, masih suka marah-marah terhadap suami saya. Pokoknya saya merasa tidak layak masuk surga.”
Kerap kali perasaan dan kenyataan bahwa kita masih memiliki banyak dosa dapat membuat kita merasa enggan untuk datang kepada Tuhan. Namun, firman Tuhan hari ini memberikan sebuah konsep yang berbeda. Ketika Yesus tengah berkumpul dan makan bersama para pemungut cukai dan orang berdosa di rumah Matius, orang-orang Farisi yang ada di sekitar tempat itu mempertanyakan apa yang dilakukan oleh Yesus. Akan tetapi, Yesus memberikan jawaban yang hingga kini menjadi pengharapan bagi semua orang berdosa, yaitu bahwa Dia datang ke dunia untuk menjadi sahabat orang-orang yang berdosa. Bukan untuk melakukan dosa bersama para pemungut cukai, melainkan untuk menghapuskan dosa-dosa mereka.
Seandainya Anda adalah salah satu dari orang-orang berdosa yang diundang untuk makan bersama Yesus di rumah Matius, respons apa yang akan Anda berikan? Menerima atau menolaknya karena merasa tidak layak? Pilihan ada di tangan Anda. Anda mesti tahu bahwa Yesus adalah sahabat orang berdosa. Dia akan selalu menerima orang berdosa; siapa pun yang mau datang kepada-Nya
TAKUTLAH UNTUK BERBUAT DOSA TETAPI JANGAN TAKUT MEMBAWA DOSA KEPADA KRISTUS
Labels: renungan harian
posted by Unknown at 6:54:00 AM


|
Permalink |
Friday, January 09, 2009
Saat Iman Goyah
Bacaan hari ini: Kisah Para Rasul 7:54-60
Ayat mas hari ini: Kisah Para Rasul 5:41
Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 27-29
Blandina adalah nama seorang perempuan kristiani yang meninggal karena sebuah penganiayaan di Lyon, Prancis, pada tahun 177. Ia mengalami siksaan begitu rupa, tetapi ia tetap mempertahankan imannya kepada Tuhan Yesus. Sampai-sampai, walaupun sang penyiksa sudah kelelahan dan frustrasi menyiksanya, ia tetap pada pendirian dan keyakinannya.
Kematian Blandina ini mengikuti jejak kematian Stefanus, martir kristiani pertama yang kisahnya tercatat dalam Kisah Para Rasul 7. Saat itu penganiayaan terhadap jemaat kristiani semakin nyata terjadi. Aniaya itu dimulai dengan ancaman kepada Rasul Petrus dan Rasul Yohanes dalam Kisah Para Rasul 4 dan 5. Kemudian disusul dengan hukuman mati bagi Stefanus. Namun, mereka semua rela dan bahkan bersukacita atas terjadinya penganiayaan tersebut (Kisah Para Rasul 5:41). Ini dimungkinkan karena iman keyakinan mereka akan Yesus sangat teguh. Keyakinan ini dapat terbangun karena mereka sudah melihat sendiri karya Tuhan Yesus dalam hidup mereka.
Dalam hidup kita sebagai orang percaya, ada masa-masa ketika iman kita menjadi goyah. Pada saat itu kita mungkin mempertanyakan tentang keberadaan Allah, tentang kasih-Nya, tentang kehidupan, tentang kematian, tentang kebangkitan Yesus, dan sebagainya. Di saat-saat demikian, mari kita mengenang kisah para martir kristiani di masa lalu seperti Stefanus dan Blandina. Mungkinkah mereka rela mati jikalau mereka tidak sungguh-sungguh yakin bahwa iman yang mereka miliki, dan juga kita miliki ini, sungguh-sungguh benar?
KESETIAAN DAN PENGORBANAN PARA MARTIR KRISTIANI ADALAH SALAH SATU BUKTI KUAT TENTANG KEBENARAN IMAN KITA
Labels: renungan harian
posted by Unknown at 3:09:00 AM


|
Permalink |
Wednesday, January 07, 2009
Kacang lupa Kulitnya
Bacaan hari ini: Ulangan 15:12-18
Ayat mas hari ini: Ulangan 15:15
Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 20-22
Kacang lupa kulit adalah ungkapan kiasan untuk menyebut orang yang lupa akan masa lalunya dan menjadi sombong. Misalnya, seorang gadis berasal dari desa, merantau ke kota, berhasil menjadi artis terkenal, lalu sikap dan perilakunya berubah menjadi sok, jauh dari tata krama. Ungkapan itu juga bisa dikenakan pada orang yang tidak tahu berterima kasih, lupa akan jasa-jasa orang yang pernah menolong dan membesarkannya. Seperti si Malin Kundang, tokoh dalam salah satu cerita rakyat dari Sumatra Barat. Malin Kundang adalah pemuda yang meraih kesuksesan di rantau, tetapi kemudian ia tidak mau mengakui ibunya sendiri, sehingga dikutuk menjadi batu.
Tuhan sangat tidak berkenan dengan sikap “kacang lupa kulit”. Itulah sebabnya berulang kali Dia mengingatkan umat Israel tentang status mereka dulu, yaitu sebagai budak-budak di Mesir, dan bahwa Tuhanlah yang telah membebaskan mereka (ayat 15). Tujuannya supaya mereka tetap mengandalkan Tuhan, dan tidak berpaling kepada ilah-ilah lain. Sekaligus supaya mereka juga memiliki empati dan kepekaan untuk membantu orang lain yang membutuhkan seperti mereka dulu (ayat 13,14).
Maka, baiklah kita terus mengingat karya kasih Tuhan dalam hidup kita, sehingga kita selalu terdorong untuk memakai segala yang ada pada kita untuk kemuliaan-Nya. Dan, baiklah kita juga tidak melupakan peran dan jasa orang lain dalam setiap kesuksesan yang kita raih, sehingga kita bisa tetap menunjukkan rasa terima kasih kita kepada mereka. Bukan seperti kacang yang lupa pada kulitnya
KITA ADALAH ORANG BERUTANG KEPADA TUHAN DAN KEPADA ORANG-ORANG DI SEKITAR KITA
Labels: renungan harian
posted by Unknown at 5:30:00 AM


|
Permalink |
Monday, January 05, 2009
Sekedar Bertahan Hidup
Bacaan hari ini: Kejadian 1:26-2:17
Ayat mas hari ini: Kejadian 2:15
Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 12-15
Ada sebagian orang kristiani yang berpendapat bahwa pekerjaan yang dijalani sehari-hari sekadar untuk bertahan hidup—tanpa ada makna spiritual. Mereka berpikir bahwa Tuhan lebih peduli kepada doa, nyanyian, saat teduh, dan semua kegiatan rohani. Bagi mereka, pekerjaan yang paling menyenangkan Tuhan adalah menjadi pendeta atau misionaris. Akibatnya, mereka mengerjakan pekerjaan sehari-hari mereka dengan setengah hati dan bahkan kerap dihinggapi rasa bersalah.
Pemahaman ini tidak sejalan dengan apa yang terdapat dalam firman Tuhan hari ini. Dikisahkan bahwa setelah Adam diciptakan, Allah memberinya tugas. Tugas ini bukanlah untuk berdoa, membaca Alkitab, menyanyikan pujian, atau kegiatan rohani yang lain. Tugasnya adalah untuk mengusahakan dan memelihara taman Eden (Kejadian 2:15). Bahkan salah satu tujuan Adam diciptakan adalah untuk berkarya dan mengelola seluruh ciptaan (Kejadian 1:28).
Untuk menjelaskan konsep ini, Martin Luther, seorang tokoh reformasi gereja abad ke-16, pernah berkata, “Meskipun aku tahu bahwa besok dunia akan kiamat, aku akan tetap menanam pohon apelku.” Inti kalimat ini adalah bahwa pekerjaan sehari-hari kita (seperti bertani, berdagang, mengurus keluarga, belajar, dan sebagainya) memiliki makna spiritual yang sama dalamnya dengan kegiatan-kegiatan rohani kita (seperti berdoa, bersaat teduh, maupun kebaktian). Bekerja merupakan salah satu hal penting yang Tuhan ingin kita lakukan dalam hidup ini. Karena itu, sudah sepantasnya kita memperlakukan dan mengerjakan pekerjaan kita sama seriusnya dengan kegiatan rohani kita
PEKERJAAN KITA SAMA PENTING DAN BERHARGANYA DENGAN KEGIATAN ROHANI KITA
Labels: renungan harian
posted by Unknown at 4:19:00 AM


|
Permalink |
Friday, January 02, 2009
40
Bacaan hari ini: Kisah Para Rasul 1:1-5
Ayat mas hari ini: Kisah Para Rasul 1:3
Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 3-5
Angka 40 kerap muncul di Alkitab. Momen-momen yang menentukan dalam hidup Musa sampai dengan saat ia meninggal ditandai dengan usia kelipatan 40. Sebelum masuk ke tanah Kanaan, umat Israel mengembara selama 40 tahun di padang gurun. Setelah berpuasa 40 hari di gurun, Iblis datang untuk mencobai Yesus. Sesudah kebangkitan dan sebelum kenaikan-Nya ke surga, Tuhan menampakkan diri kepada para murid selama 40 hari. Ada apa dengan angka 40 ini?
Rupanya angka ini senantiasa menandai masa persiapan sebelum datangnya babak baru dalam kehidupan seseorang, umat Tuhan, atau bahkan dunia ciptaan-Nya. Saat Yesus menampakkan diri selama 40 hari kepada para murid-Nya, hal itu merupakan masa persiapan di mana kelak Yesus tidak akan lagi hadir di antara mereka dalam wujud fisik. Dia akan kembali surga. Dia akan hadir dalam wujud yang baru, yakni Pribadi Roh Kudus. Itulah yang menandai babak baru bagi pekabaran Injil ke seluruh dunia, melalui kemitraan antara Roh Yesus dengan “tubuh-Nya” (Gereja Tuhan). Jelas bahwa pada masa 40 hari itu, aktivitas begitu padat dengan pendidikan yang disampaikan “berulang-ulang” kepada para murid demi mempersiapkan datangnya babak baru tersebut.
Segala hal yang baik dalam kehidupan ini selalu memerlukan masa persiapan. Persiapan yang baik menentukan datangnya hasil yang baik. Semakin matang persiapan, semakin besar potensi sukses. Kalau Tuhan saja bekerja dengan persiapan, apalagi kita. Marilah kita melakukan apa saja dengan persiapan yang memadai. Jangan asal-asalan atau seadanya. Jangan suka meremehkan. Persiapan itu penting.
DATANGNYA KEBERHASILAN MASA DEPAN DITENTUKAN JUGA OLEH PERSIAPAN MASA SEKARANG
Labels: renungan harian
posted by Unknown at 6:48:00 AM


|
Permalink |
Thursday, January 01, 2009
Mewujudkan Resolusi
Bacaan hari ini: Yakobus 4:13-17
Ayat mas hari ini: Roma 8:28
Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 1-2
Menyusun resolusi adalah hal yang kerap dilakukan orang di awal tahun. Namun, banyak orang begitu semangat menyusun resolusi agar menjadi “lebih baik”, kemudian lupa ketika waktu berlalu. Ada banyak hal membuat kita sulit mewujudkan resolusi. Akan tetapi, ada satu hal penting yang bisa menjadi pangkal kegagalan kita, yakni saat kita menyusun resolusi dengan pertanyaan yang salah, “Apa yang ingin saya capai tahun ini?” atau “Apa yang ingin saya lakukan tahun ini?” Sebagai orang-orang yang menjadikan Yesus sebagai Raja atas hidup ini, bukankah seharusnya kita mendasarkan resolusi pada pertanyaan, “Tuhan, apa yang Engkau ingin aku lakukan tahun ini? Apa yang Engkau ingin agar saya capai tahun ini?” Ada dua alasan mengapa kita harus melibatkan Tuhan dalam menyusun resolusi.
Pertama, Yakobus mengingatkan agar kita tidak melupakan Tuhan dalam perencanaan, karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok (ayat 14). Yakobus menasihati supaya kita berkata, “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu” (ayat 15). Hanya Tuhan yang tahu apa yang akan terjadi di sepanjang tahun ke depan. Namun, Tuhan akan memimpin kita untuk membuat keputusan yang tepat, saat kita membuat rencana bersama-Nya. Kedua, kita mesti ingat bahwa tujuan utama hidup kita adalah menjadi serupa dengan Kristus (Roma 8:29). Karena itu, fokus resolusi kita seharusnya adalah menjadi apa yang Tuhan mau, bukan sekadar menjadi lebih baik menurut ukuran manusia.
Mari membuat dan menjalani resolusi bersama Tuhan. Peganglah janji Tuhan, bahwa Dia akan “turut bekerja dalam segala sesuatu” di sepanjang tahun ini
JANGAN KATAKAN KEPADA TUHAN APA YANG BAIK MENURUT KITA TANYAKAN KEPADA TUHAN APA YANG DIA PIKIR BAIK BAGI KITA
Labels: renungan harian
posted by Unknown at 12:58:00 PM


|
Permalink |
Saturday, December 27, 2008
Allah yang berinisiatif
Bacaan hari ini: Galatia 4:4-9
Ayat mas hari ini: Galatia 4:4,5
Bacaan Alkitab Setahun: Wahyu 5-8
Setelah 37 tahun bekerja di meja operasi, dokter Evan Kane sadar bahwa bius total berisiko tinggi. Menurutnya, pada operasi tertentu pasien cukup dibius lokal. Namun, praktik ini belum dikenal pada tahun 1921. Untuk membuktikan teorinya, dokter Kane mencari orang yang mau menjadi pasien percobaan, tetapi ia kesulitan. Tak seorang pun ingin tetap sadar ketika operasi tengah berlangsung dan merasakan sakit luar biasa. Akhirnya, dokter Kane berinisiatif—ia mengajukan diri untuk dioperasi, yaitu operasi usus buntu. Inilah operasi usus buntu pertama dengan bius lokal. Hasilnya sukses. Terobosan besar ini membuat operasi dengan bius lokal mulai dipakai di seluruh dunia dan meringankan derita pasien.
Untuk menyelesaikan sebuah masalah, kerap diperlukan sosok yang berani mengambil inisiatif. Dan, Allah yang kita sembah itu penuh inisiatif! Melihat manusia tak berdaya di bawah kuasa dosa, Dia tidak tinggal diam. Dia tak membiarkan manusia terus menjadi hamba ilah-ilah, yang akhirnya akan membuat manusia binasa. Karena tak seorang pun dapat menjadi penebus dosa, Allah berinisiatif mengutus Anak-Nya sendiri untuk lahir sebagai manusia dan menebus kita (ayat 4). Bahkan, Roh Anak-Nya pun diutus untuk tinggal dalam hati kita (ayat 6). Solusi total itu membuat manusia kini bisa bebas dari kuasa dosa dan mengabdi pada Allah.
Natal adalah saat untuk kita mensyukuri inisiatif Allah. Kehadiran-Nya di dunia telah membebaskan kita dari kebinasaan melalui karya penebusan Kristus. Karena itu, kita yang telah menerima anugerah tersebut mesti mengambil inisiatif untuk mengabdi hanya kepada Allah
SEBUAH INISIATIF MUNCUL BUKAN KARENA PAKSAAN MELAINKAN KARENA KASIH DAN KEPEDULIAN
Labels: renungan harian
posted by Unknown at 6:58:00 AM


|
Permalink |
Thursday, December 25, 2008
Ulang Tahun Yesus
Bacaan hari ini: Yesaya 9:1-6
Ayat mas hari ini: Yesaya 9:1
Bacaan Alkitab Setahun: 2 Yohanes; 3 Yohanes; Yudas
Apakah Yesus lahir tanggal 25 Desember? Tidak! Kita membaca bahwa saat Yesus lahir, para gembala “menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam” (Lukas 2:8). Dan, para gembala menggembalakan domba di padang saat malam hari hanya pada musim panas. Padahal, Desember adalah musim dingin. Artinya, kelahiran Yesus pasti terjadi pada bulan-bulan musim panas, meski tak ada yang mengetahui waktunya secara pasti. Tanggal 25 Desember dijadikan hari Natal karena hari itu merupakan perayaan berbaliknya matahari ke belahan bumi utara. Di tengah musim dingin yang gelap, terang muncul; Yesus lahir sebagai Terang Dunia.
Natal bukan perayaan ulang tahun Yesus, melainkan perayaan datangnya Yesus ke dunia sebagai Sang Terang. Kelahiran-Nya membuka babak baru: dunia yang dikuasai kegelapan dosa kini melihat Terang yang besar. Di mana terang hadir, di situ tak ada lagi kegelapan. Apa akibatnya? Pertama, umat manusia dilepaskan dari belenggu dosa yang menekan dan menindas (ayat 3). Kedua, ada damai sejahtera yang mampu mengenyahkan perang dan perseteruan (ayat 4) serta ketidakadilan (ayat 6).
Dua ribu tahun sudah Yesus lahir. Mengapa penindasan, perang, dan ketidakadilan masih ada? Karena masih banyak orang belum membuka hati bagi Sang Terang. Manusia “melihat” Terang itu, tetapi tidak menyambut-Nya, sehingga hatinya masih dikuasai kegelapan. Tugas kita adalah memperkenalkan terang Kristus kepada sesama melalui tindakan kasih. Itulah inti perayaan Natal. Bukan sekadar menyalakan lilin atau pohon terang, melainkan hidup dalam terang dan membawa orang mengenal Sang Terang
KEGELAPAN HANYA BISA TERUSIR JIKA TERANG DIPERSILAKAN HADIR
Labels: renungan harian
posted by Unknown at 7:16:00 AM


|
Permalink |
Wednesday, December 24, 2008
Mukjizat Natal
Bacaan hari ini: Lukas 2:8-20
Ayat mas hari ini: 2 Korintus 5:17
Bacaan Alkitab Setahun: 1 Yohanes 1-5
Natal 2004 adalah natal pertama saya di China (ketika studi di sana). Natal pertama tanpa keluarga; tanpa pohon Natal; tanpa kebaktian Natal; tanpa kartu Natal; tanpa lagu Natal; bahkan tanpa libur natal! Namun, di tengah keadaan demikian, saya justru menemukan makna Natal yang sejati. Pada tanggal 24 Desembersahabat saya dibaptis; dan saya berkesempatan melihat sebuah hidup yang sungguh diubahkan oleh Kristus. Sejak sahabat saya menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadi, ia telah banyak berubah—dari orang yang keras menjadi orang yang lembut hati; dari orang yang tak memiliki hubungan dengan Tuhan, menjadi orang yang bergaul erat dengan Dia.
Ketika itu barulah saya sadar bahwa inilah arti Natal. Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang-orang berdosa dan mengubah hidup mereka—menjadikan hidup yang tak berarti menjadi berarti. Demikian pula mukjizat Natal pertama yang dialami para gembala. Mereka hidup biasa-biasa saja, tetapi sebuah berita dari malaikat mengubahkan hidup mereka. “Telah lahir bagimu Juru Selamat” (ayat 11). Bukan bagi orang lain, tetapi bagimu. Mereka pun menemui bayi Yesus lalu pulang sambil memuji-muji Allah (ayat 20).
Natal tak akan berarti sebelum kita bertemu dengan Kristus. Dan, mukjizat natal adalah ketika seseorang tersesat dapat bertemu dengan Sang Juru Selamat—Juru Selamat yang lahir baginya. Sudahkah Anda mengalami Kristus lahir di hati Anda? Sudahkah Anda mengalami perubahan hidup karena-Nya? Jika belum, Dia rindu mela-kukannya hari ini
NATAL TERINDAH TERJADI KETIKA YESUS LAHIR DI HATI YANG HANCUR
Labels: renungan harian
posted by Unknown at 1:55:00 AM


|
Permalink |
Tuesday, December 23, 2008
Fokus Natal
Bacaan hari ini: Matius 2:1-12
Ayat mas hari ini: Matius 2:11
Bacaan Alkitab Setahun: 2 Petrus 1-3
Seorang ibu tengah menyusun daftar hadiah Natal buat para kerabat dan sahabat keluarga. Anaknya yang berumur tujuh tahun duduk di sampingnya dan asyik memerhatikan. “Nak, Ibu sudah menyusun daftar nama penerima hadiah Natal kita. Coba kamu lihat, apakah ada nama yang lupa Ibu tulis?” tanyanya. Si anak menyimak daftar nama yang ditulis ibunya dengan teliti. “Ibu lupa mencatumkan nama Yesus,” sahutnya kemudian.
Sebetulnya sangat ironis ketika Natal tidak lagi berfokus pada Kristus. Bukankah Natal adalah peringatan akan hari kedatangan-Nya? Sayangnya, yang kerap terjadi sekarang adalah orang-orang malah sibuk dengan kepentingan dan kesenangannya sendiri, sehingga pertanyaan yang muncul bukan, “Apa yang bisa aku berikan buat Sang Bayi Kudus?”, melainkan, “Hadiah apa yang akan aku dapat? Mau shopping ke mana? Bisnis apa lagi yang bisa aku garap?”. Fokusnya adalah “aku”, bukan Kristus.Di gereja pun demikian. Orang begitu sibuk dengan berbagai persiapan acara, hingga tidak jarang orang saling berkelahi. Kita lupa untuk duduk tenang dan bertanya, “Apakah memang ini yang Kristus inginkan sebagai peringatan atas kelahiran-Nya?” Tidak heran kalau kemudian Natal berlalu tanpa makna. Hanya sebuah rutinitas. Tidak mengubah atau memperbarui apa-apa.
Hari ini kita kembali membaca kisah para Majus. Mereka datang ke Betlehem dari negeri yang jauh; melewati berbagai rintangan dan bahaya; membawa hadiah-hadiah bermakna untuk Kristus. Fokus mereka adalah: menyembah Kristus, bukan menuruti keinginan atau kepentingan sendiri
NATAL HARUS BERFOKUS PADA KRISTUS SEBAB NATAL ADALAH PESTA-NYA, BUKAN PESTA KITA
Labels: renungan harian
posted by Unknown at 5:23:00 AM


|
Permalink |
Monday, December 22, 2008
Bangku Natal
Bacaan hari ini: Roma 15:1-6
Ayat mas hari ini: Markus 10:45
Bacaan Alkitab Setahun: 1 Petrus 1-5
Ketika saya tengah menempuh studi di China, seorang sahabat menceritakan sebuah pengalaman malam Natal di suatu gereja rumah. Sebelum Natal, pendeta di ge-reja itu mengingatkan jemaat untuk mengundang sebanyak mungkin keluarga dan teman yang belum percaya, agar hadir dalam kebaktian malam Natal. Saat Natal tiba, rumah tempat mereka mengadakan ibadah dibanjiri banyak orang. Sebagian besar dari mereka baru pertama kali beribadah di gereja. Karena banyak sekali yang datang, bangku yang tersedia tidak mencukupi. Tanpa perlu dikomando, beberapa jemaat yang melihat hal itu segera memberikan bangku mereka. Lalu mereka masuk ke kamar dan berdoa supaya orang yang duduk di bangku mereka mendengar Injil dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat.
Mendengar kisah itu, saya ingat kata Paulus dalam surat Filipi. Bahwa Kristus, sekalipun setara dengan Allah, rela mengosongkan diri-Nya (Filipi 2:7) ketika datang ke dunia ini. Dia merelakan hak yang sesungguhnya patut Dia nikmati. Dia tidak hendak dilayani, tetapi hendak melayani dan memberikan nyawa-Nya
Bagaimana dengan kita? Kerap kali Natal kita buat semegah dan semeriah mungkin demi kepuasan diri. Mungkin kita menyisihkan uang untuk kegiatan sosial, tetapi terkadang itu hanya embel-embel dan bukan inti acara Natal. Ini saatnya kita kembali ke berita Natal, yaitu meneladani Allah yang memberi. Merelakan hak-hak kita, agar orang lain dimudahkan untuk mengenal Tuhan. Kita dapat segera memulainya, bahkan dari hal kecil seperti berbagi bangku
ANTARKAN SESAMA UNTUK MENGENAL ALLAH LEWAT SEGALA CARA YANG DAPAT KITA UPAYAKAN
Labels: renungan harian
posted by Unknown at 5:17:00 AM


|
Permalink |
Friday, December 19, 2008
”Setrum” yang Menyenangka
Bacaan hari ini: Lukas 1:39-45
Ayat mas hari ini: Lukas 1:44
Bacaan Alkitab Setahun: Ibrani 11-13
Kesedihan dan kegembiraan itu menular. Apabila Anda sedih, orang di sekitar Anda dapat merasakannya. Bahkan mereka bisa ikut sedih. Sebaliknya, jika Anda bergembira, suasana hati Anda akan memendar hangat, sehingga terasa oleh orang lain. Bahkan bisa menghangatkan hati mereka juga. Jadi bukan hanya penyakit, pengalaman rasa dalam diri manusia dapat menular. Lalu, bagaimana dengan pengalaman batin? Bisakah itu menular? Tentu saja! Bila batin seseorang damai, maka kedamaian itu akan memancar lembut di mata, wajah, dan seluruh tubuhnya. Siapa pun yang berhubungan dengannya, sedikit banyak akan “tersetrum” damainya.
Suatu ketika, Maria mengunjungi Elisabet untuk meneguhkan hatinya sehubungan dengan pernyataan malaikat Gabriel (ayat 36). Saat mereka berjumpa, Elisabet merasa-kan “setrum”—anak dalam rahimnya melonjak dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus (ayat 41). Bahkan ia dapat berkata, “Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?” (ayat 43). Padahal Kitab Suci tidak mengatakan bahwa malaikat juga menyampaikan pesan itu kepada Elisabet!
Perjumpaan dengan Tuhan secara pribadi juga bisa terasa seperti “setrum” yang menyenangkan. Dan itu bisa Anda bagikan kepada dunia. Namun, tak usah merasa gagal bila tak ada orang yang menyatakannya, sebab hal ini memang tak menuntut pengakuan. Rasakan, hayati, dan nikmati setrum perjumpaan dengan Tuhan sebagai penguatan bagi diri Anda. Dan orang-orang yang murni hatinya, seperti Maria dan Elisabet, dengan sendirinya akan “saling setrum”. Semoga kita juga
ALLAH MENYALURKAN KEHANGATAN KASIH-NYA AGAR KITA MENERUSKANNYA KEPADA DUNIA
Labels: renungan harian
posted by Unknown at 5:05:00 AM


|
Permalink |
Thursday, December 18, 2008
Inkarnasi, Sumber Inspira
Bacaan hari ini: Filipi 2:1-11
Ayat mas hari ini: Filipi 2:7
Bacaan Alkitab Setahun: Ibrani 8-10
Apa kesamaan Fransiskus Asisi, Ibu Teresa, dan Romo Mangun? Salah satu hal yang paling menonjol dari ketiganya adalah mereka rela meninggalkan kenyamanan hidup untuk tinggal dan melayani orang-orang miskin; baik di Eropa berabad-abad yang lalu, di India, maupun di Indonesia. Kita percaya mereka melakukannya karena iman kepada Kristus. Kita pun percaya inspirasi mereka datang dari peristiwa dua ribu tahun lalu, pada suatu malam di Betlehem.
Malam itu, Allah Pencipta dan Penguasa semesta meninggalkan segala kemuliaan-Nya, berinkarnasi menjadi manusia untuk menyelamatkan kita. Bukan dalam rupa seorang raja, bangsawan, atau orang terhormat, melainkan sebagai anak dari sepasang wong cilik (rakyat jelata), yang bahkan tak sanggup menyewa tempat untuk melahirkan bayi dengan layak (Lukas 2:7). Paulus menggambarkan peristiwa ini dengan kalimat: “Dia mengosongkan diri-Nya” (ayat 6).
Peristiwa inkarnasi Allah menjadi manusia biasa memang patut dikagumi dan disyukuri. Namun tak hanya itu, peristiwa ini mesti menginspirasi dan menggerakkan kita untuk melayani orang lain, seperti ketiga tokoh di atas. Mereka bersedia keluar dari kenyamanan; untuk berbagi dengan sesama yang membutuhkan. Ada begitu banyak orang di sekitar kita dan di dunia ini yang menderita; baik secara fisik, mental, atau spiritual. Mereka memerlukan makanan, pakaian, dan perawatan. Mereka perlu dihibur, ditemani, dan dikasihi. Terlebih mereka perlu mendengar Injil. Tuhan telah memulai. Kini giliran kita yang hidup pada zaman ini untuk meneruskannya
ALLAH TELAH MENELADANKAN PENGOSONGAN DIRI AGAR KITA PUN MENGOSONGKAN DIRI UNTUK MELAYANI
Labels: renungan harian
posted by Unknown at 5:46:00 AM


|
Permalink |
Wednesday, December 17, 2008
Obat dalam Luka
Bacaan hari ini: 2 Korintus 1:3-11
Ayat mas hari ini: 2 Korintus 1:6
Bacaan Alkitab Setahun: Ibrani 5-7
Pernahkah Anda bertemu dengan orang yang memiliki ilmu kebal; yang tak mem-pan ditembus senjata tajam, bahkan peluru? Mungkin pernah. Namun, adakah orang yang kebal terhadap penderitaan? Selama punya rasa dan hati, orang tidak dapat kebal dari kesesakan hidup. Akan tetapi, penderitaan yang berat belum tentu “menggilas” manusia. Mari cermati pesan Paulus tentang hal ini.
Mengawali suratnya kepada jemaat di Korintus, Paulus berkata bahwa Allah telah menghiburnya dalam penderitaan. Ya, ia memang sedang harus menanggung keseng-saraan Kristus ketika surat ini ditulis (ayat 5). Namun, saat ia mengalami penderitaan berat, ada juga penghiburan yang besar. Bahkan penderitaan itu pada gilirannya justru menjadi penghiburan. Inilah pesannya; di tengah impitan beban hidup, kita mesti membuka hati untuk merasakan penguatan Allah. Dan ada satu kenyataan ilahi yang memampukan kita untuk menghadapi segala beban hidup, yakni bahwa Allah kita sungguh berkuasa, bahkan dapat membangkitkan orang mati (ayat 9). Hal ini terbukti melalui peristiwa kebangkitan Kristus. Dan itulah pengharapan Paulus.
Jika kita menghadapi beban hidup bersama-sama dengan Allah, maka sebuah “luka” pun dapat berubah menjadi “obat”. Bagaimana tidak? Penderitaan yang kita alami akan membuat kita memiliki pengalaman iman dengan Tuhan. Melalui hal itu, kita pun dikuatkan untuk tetap tegar di tengah badai. Dan pada gilirannya, orang yang kuat akan dapat meneguhkan orang lain. Bukan dengan penghiburan yang klise, tetapi penghiburan yang berdasarkan pengalaman nyata
PENDERITAAN BERAT YANG DIOLAH DENGAN TEPAT DAPAT MENJADI OBAT ROHANI YANG MANTAP
Labels: renungan harian
posted by Unknown at 6:21:00 AM


|
Permalink |
Tuesday, December 16, 2008
Kejutan
Bacaan hari ini: 1 Samuel 17:40-50
Ayat mas hari ini: 1 Samuel 17:50
Bacaan Alkitab Setahun: Ibrani 1-4
Kejutan sesuatu yang tidak terduga; diduga tidak terjadi malah itu yang terjadi, disangka terjadi malah tidak terjadi. Dalam permainan sepak bola kejutan kerap terjadi; di mana kesebelasan yang semula dianggap lemah, tidak punya peluang menang, tetapi malah keluar sebagai pemenang. Salah satu contoh adalah ketika Piala Eropa tahun 2004. Sejak awal yang dijagokan menjadi juara adalah negara raksasa sepak bola macam Jerman, Italia, Prancis, dan Belanda. Namun, yang kemudian menjadi juara justru Yunani, negara yang sama sekali tidak diperhitungkan.
Peristiwa Daud mengalahkan Goliat juga kejutan. Betapa tidak, siapa yang men-duga si penjaga ternak, “anak ingusan”, sanggup mengalahkan prajurit profesional yang sangat ditakuti seperti Goliat. Namun itulah yang terjadi. Sejarah mencatat demikian. Kita bisa membayangkan ketika tubuh raksasa Goliat itu tumbang dihantam “ketapel” Daud, para prajurit kedua pihak yang menyaksikan hanya bisa melongo. Terhenyak dan terdiam.
Fenomena kejutan ini kiranya mengingatkan kita; kalau kita sedang berada “di atas angin”, hidup bergelimang sukses dan kejayaan, hati-hati, jangan lupa diri. Jangan takabur. Sebab bisa saja dalam sekejap semua itu amblas tak berbekas. Maka mawas diri itu penting. Bagaimana pun kita tetaplah makhluk yang terbatas. Sebaliknya, kalau kita berada “di bawah angin”, hidup kita terus berkubang kegagalan dan diremehkan, jangan putus asa, teruslah berusaha. Lakukan yang terbaik. Kejutan selalu bisa terjadi kapan saja, dan dengan cara apa saja. Seperti Daud ketika mengalahkan Goliat
Mawas dirilah di tengah kegembiraan dan jangan kecil hati di tengah kepedihan
Labels: renungan harian
posted by Unknown at 6:33:00 AM


|
Permalink |
Monday, December 15, 2008
Buah Ketekunan
Bacaan hari ini: Yakobus 1:1-8
Ayat mas hari ini: Amsal 24:16
Bacaan Alkitab Setahun: Titus 1-3; Filemon 1
Pada tahun 1850-an, Levi Strauss mengadu nasib ke Kalifornia untuk menambang emas. Hasilnya tak seberapa banyak, tetapi ia tidak putus asa. Ia lantas mencari usaha sampingan dengan membuat bahan kain keras (jeans) untuk tenda atau penutup mobil. Teman kerjanya berkomentar: “Mengapa kamu tidak membuat celana dari bahan ini?” orang itu menjelaskan bahwa para penambang perlu celana dari bahan kain yang kuat. Strauss setuju. Ia pun membuat celana bagi para penambang emas. Hal ini menjadi langkah awal ia mendapatkan “emas”. Celana berbahan jeans itu disukai banyak orang, bahkan menjadi populer sampai ke seluruh dunia.
Dalam hidup ini, kita tidak dapat menghindari kegagalan, kesusahan, pencobaan, atau ujian. Namun, kita dapat menyikapinya secara berbeda. Jika disikapi dengan keputusasaan, masa sulit akan melumpuhkan semangat hidup. Membuat kita menjadi pecundang. Sebaliknya, jika disikapi dengan ketekunan, masa sulit bisa dianggap sebagai “suatu kebahagiaan” (ayat 2). Mengapa? Karena melaluinya kita ditempa menjadi lebih dewasa dan berpengalaman. Apakah ketekunan itu? Sikap pantang menyerah dan terus berusaha melakukan yang terbaik di saat terburuk. Ketekunan membentuk orang menjadi tahan banting; pandai melihat peluang di tengah penghalang. Dan, buahnya adalah keberhasilan.
Apakah Anda tengah melalui masa sulit? Kegagalan bisnis, keretakan hubungan, sakit-penyakit, sampai ujian iman. Apakah pencobaan dan kegagalan membuat Anda patah semangat atau pesimis? Ayo bangkit lagi! Mintalah hikmat kepada Tuhan agar bisa tetap bertahan
KEPUTUSASAAN MELUMPUHKAN KETEKUNAN MEMAMPUKAN
Labels: renungan harian
posted by Unknown at 8:26:00 AM


|
Permalink |
Sunday, December 14, 2008
Melampaui Hukum
Bacaan hari ini: Galatia 2:15-21
Ayat mas hari ini: Galatia 2:16
Bacaan Alkitab Setahun: 2 Timotius 1-4
Saat sekolah, kita mungkin pernah dihukum karena melanggar aturan. Aturan me-mang diperlukan, tetapi juga mengandung bahaya, yakni jika diterapkan menjadi pemu-tlakan yang kaku. Jika hidup beriman hanya berisi aturan dan hukuman, dapatkah kita merasakan indahnya pengampunan dan cinta kasih?
Dalam Galatia 2:15-21, Paulus hendak meluruskan pemahaman yang keliru, yang memaksa orang kristiani non-Yahudi untuk menerima hukum Taurat sebagai syarat mengikut Yesus. Paulus menyatakan bahwa Taurat tidak dapat membenarkan orang. Sebaliknya, Taurat cenderung mengungkung dan membebani manusia karena tak mungkin mampu memenuhinya. Sementara itu, iman kepada Kristus justru membenarkan orang berdosa. Siapa pun dapat dibenarkan oleh karya Kristus (ayat 16). Lantas, ada yang mengatakan bahwa manusia boleh terus berkubang dalam dosa karena toh Kristus akan memberi pembenaran. Paulus menolak pendapat ini, sebab dibenarkan dalam iman berarti dijadikan benar, bukan dipersilakan berbuat yang tidak benar. Dan, siapa pun yang beriman mesti menunjukkan gaya hidup yang berpadanan dengan pembenaran yang telah ia terima dari Tuhan. Orang yang terus berbuat dosa berarti belum sungguh-sungguh memahami makna pembenaran. Ia hanya mau memetik manfaat dari Kristus, tetapi tak beriman kepada-Nya.
Beriman bukan sekadar ucapan mulut. Beriman adalah soal hidup yang nyata. Karena itu Paulus berkata: “Hidupku bukannya aku lagi, tetapi Kristus yang hidup di dalam aku”. Itulah sebabnya kita perlu menjaga hidup batin dan bersukacita senantiasa
BILA KRISTUS TELAH MEMERDEKAKAN JANGAN LAGI MENYENTUH BELENGGU YANG TELAH DILEPASKAN
Labels: renungan harian
posted by Unknown at 9:27:00 AM


|
Permalink |
Friday, December 12, 2008
Mengenali SuaraNya
Bacaan hari ini: Yohanes 10:1-10
Ayat mas hari ini: Yohanes 10:4
Bacaan Alkitab Setahun: 1 Timotius 1-3
Para murid sekolah di Inggris dilarang menyalakan nada dering telepon genggam di kelas. Namun, mereka tidak habis akal. Mereka memasang ringtone yang disebut “suara nyamuk”, yaitu nada dengan frekuensi tinggi yang tidak bisa didengar oleh telinga orang dewasa. Para guru pun tak bisa mendengar suaranya. Namun, para murid dapat mendengarnya, sehingga bisa berkirim SMS dengan leluasa. Rupanya setelah berusia 25 tahun ke atas, ada bulu-bulu halus di dalam telinga manusia yang menua atau rusak. Itu sebabnya telinga orang dewasa tak lagi dapat mendengar suara dengan frekuensi tinggi (di atas 16 KHz) seperti telinga anak-anak.
Yesus menggambarkan diri-Nya sebagai gembala yang baik dan para murid adalah domba milik-Nya. Ada ikatan batin antara gembala dan domba. Gembala di Israel biasanya memberi nama tiap dombanya dan memanggil nama mereka dengan nada khas. Jika malam tiba, setelah semua domba masuk kandang, sang gembala tidur di pintu masuk. Ia menjadi pintu—tameng untuk melindungi domba dari serangan musuh. Kedekatan ini membuahkan kepekaan. Domba-domba mampu mengenali dan membedakan suara gembalanya. Jika gembala asing memanggil, mereka tak bereaksi.
Di sekitar kita ada banyak suara. Kadang sulit membedakan mana suara yang benar dan mana yang sesat; mana kehendak Tuhan, mana bukan kehendak Tuhan. Untuk melatih kepekaan, kita perlu membangun persekutuan dengan Tuhan melalui disiplin doa dan firman. Kalau kita ingin terus mengenali suara-Nya, jangan mengabaikan disiplin rohani ini
TANPA DOA DAN FIRMAN ANDA AKAN KEHILANGAN KEPEKAAN
Labels: renungan harian
posted by Unknown at 5:16:00 AM


|
Permalink |
Wednesday, December 10, 2008
Upah yang adil
Bacaan hari ini: Matius 20:1-16
Ayat mas hari ini: Matius 20:16
Bacaan Alkitab Setahun: 1 Tesalonika 4-5
Umumnya orang berpendapat bahwa banyak bekerja tentu akan banyak mendapat; banyak berprestasi pasti juga banyak mendapat. Firman Tuhan hari ini barangkali akan membuat kita bertanya, “Apakah Tuhan adil?” Dia memberi upah yang sama untuk jerih payah yang berbeda. Mengapa Yesus berkata demikian? Apakah pantas? Sebuah pernyataan yang sulit dipahami secara konkret, meski kalimatnya jelas dan lugas.
Setidaknya ada dua penjelasan mengenai hal ini. Pertama, itu tak adil menurut kita karena kita berfokus pada upah—bukan Sang Tuan yang kita layani. Bukankah motivasi kita dalam melayani semestinya untuk Sang Tuan? Fokusnya tak boleh pada diri sendiri, tetapi pada Sang Tuan. Sama seperti saat kita punya kesempatan melayani seorang raja, bukankah itu merupakan suatu kebanggaan yang tak ternilai? Berpijak pada pandangan tersebut, kita akan memahami bahwa upah bukanlah hal yang terutama; bukan pada apa yang kita dapat, tetapi pada yang bisa kita beri.
Kedua, apabila kita protes, bukankah itu tandanya kita merasa iri hati? (ayat 15). Seperti perumpamaan tentang anak yang hilang (Lukas 15:11-32)—ketika si sulung memprotes kemurahan hati sang ayah kepada adiknya. Si sulung merasa ayahnya berlaku tidak adil karena ia sudah setia dan bekerja keras. Kita adalah manusia berdosa yang telah diselamatkan Tuhan dari sengat maut. Itu sebabnya Tuhan berhak atas hidup kita sepenuhnya, berhak memberikan apa pun yang pantas dan perlu kita peroleh. Baiklah kita fokus pada apa yang harus kita kerjakan dan berikan, bukan pada apa yang bisa kita peroleh
BERIKANLAH YANG TERBAIK KEPADA TUHAN DAN SESAMA TANPA IRI HATI, TETAPI ATAS DASAR KASIH
Labels: renungan harian
posted by Unknown at 1:18:00 AM


|
Permalink |